Kehidupan mereka memang terbilang sulit semenjak Jia lahir dengan keadaan yang kurang baik yakni Jia memiliki penyakit di bagian Paru-paru nya. Keadaan ekonomi keluarganya pun tidak mencukupi untuk biaya pengobatan Jia. Oleh karena itu, Jia hanya diobati dengan obat tradisional saja.
Karena keadaan ekonomi yang tidak stabil, orangtua Jia sering bertengkar menyalahkan satu sama lainnya. Suatu hari terjadi pertengkaran yang sangat dahsyat di rumah mereka. Piring dan peralatan rumah tangga berterbangan, perang saling lempar pun terjadi. Melihat orangtuanya bertengkar Jia lari ketakutan dan berlindung di bawah meja sambil menangis dan berdo’a “Ya Allah… Jia takut, hentikan pertengkaran ini Ya Allah…” kata Jia dengan nada terbata-bata.
Tak lama kemudian ayah Jia berkata “Jika sikap kamu masih seperti ini lebih baik saya pergi dari rumah ini…!” “Dari dulu itu yang selalu kamu ucapkan, aku juga tau kamu pergi dari rumah hanya untuk bersenang-senang tanpa memikirkan anak dan istri mu… jika mau pergi ya pergi saja jika kamu ingin pergi karena diriku hanya patung bagimu…” jawab Maria dengan marah. Kemudian Wijaya pergi dari rumah entah kemana.
Jia dan ibunya menunggu Wijaya pulang hingga larut malam namun Wijaya masih tetap belum pulang. “Mungkin lebih baik jika aku pergi ke Saudi Arabia, mudah-mudahan masalah ini akan selesai jika ekonomi keluargaku membaik” pikir Maria dalam hati.
Keesokan harinya Maria mendaftar untuk pergi ke Arab Saudi menjadi TKW tanpa memberitahukan rencananya kepada suaminya karena ia takut jika suaminya tidak menyetujui keinginannya.
Malam harinya Maria dan Jia menunggu kepulangan Wijaya namun sayang ia belum juga datang. Sambil menunggu Wijaya Maria membereskan dan menyiapkan semua keperluan yang akan dibawanya ke Saudi Arabia. “Mah… Mamah mau kemana? kok beres-beres?” tanya Jia dengan penuh tanda tanya, “Hem… mamah tidak kemana-mana sayang, mamah Cuma beres-beres aja” jawab Maria.
Jia mulai ngantuk kemudian ia tidur di dekat ibunya. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil di depan rumahnya tid… tid… tid… Maria membuka pintu dan berkata “Tunggu sebentar” lalu Maria menutup dulu pintu dan mendekati Jia yang sedang tidur, ia memeluk jia dengan eratnya yang sedang tidur pulas. “Jia sayang… maafkan mamah ya nak… mamah pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik, mamah nanti kembali untuk temui Jia… bilang sama papah mamah sayang banget sama Jia dan papah…” Maria berbisik sambil mencium kening buah hatinya dan menangis, setelah itu Maria pergi meninggalkan Jia di rumah sendirian.
Ketika suara mobil terdengar dan tak lama melaju semakin jauh, Jia bangun, ia menangis, Jia tak berani melihat kepergian ibunya karena itu hanya akan membuat kesedihan dalam hatinya. Jia berkata “Mamah Jia juga sayang mamah… kenapa mamah tinggalin Jia? mamah… mamah…” katanya sambil menangis.
Esok harinya Wijaya pulang ke rumahnya. “Mah… mamah… mah….? kemana dia? Ji… Jia… Jia dimana kamu nak?” teriak Wijaya ketika membuka pintu. “Papah…” kata Jia sambil berlari dari kamarnya memeluk ayahnya. “Kenapa kamu nak..? Kemana mamah?” tanya Wijaya, “Mamah gak ada pah… mamah pergi ke Saudi, jadi TKW semalam mamah menunggu papah tapi papah gak pulang… kata mamah mamah bakalan pulang karena mamah sayang sama kita pah…” jawab Jia, “Apa pergi keluar negeri… jadi TKW? Dasar wanita tak tau diuntung… Ibu kamu jahat Jia dia tidak sayang sama kita, ibu kamu kejam meninggalkan kamu sendirian di rumah..” ujar Wijaya dengan marah “Papah jangan gitu, mamah gak jahat… mama cuma pergi sebentar… mamah ingin masalah selesai” jawab Jia, “Jika ibu kamu memang sayang harusnya ia tetap berada di rumah… Jia sayang daripada kita pikirkan mamah yang jahat mending kita pergi dari rumah ini” tanya Wijaya. “Pergi kemana? gak ah Jia mau disini saja nunggu mamah pulang…” kata Jia, “Mamah kamu gak bakalan pulang, mending Jia ikut papah aja, nanti papah kasih hadiah..” Wijaya membujuk Jia, “Jia mau tunggu mamah… kata mamah mamah bakalan pulang jadi Jia mau disini saja… mamah kan sudah janji sama Jia..” ucap Jia menegaskan ayahnya “Nak mamah kamu bohong, dia gak bakalan pulang… mending ikut ayah yu… ayo jika Jia sayang papah..?” kata Wijaya, “Iya deh Jia ikut papah asal papah janji sama jia gak bakalan kasar lagi..” jawab Jia.
Jia dan Wijaya pergi ke suatu tempat yang bernama pasir luyu disana adalah tempat tinggal Wijaya bersama istri mudanya. “Ini siapa pah…?” Tanya wida istri mudanya Wijaya, “Ini Jia mah… yang sering papah ceritakan” Jawab Wijaya “Wah cantik banget de… ikut mamah yu ke rumah baru ade…!” kata wida kepada Jia. Jia ikut ibu tirinya dengan perasaan tak tau apa-apa.
Hari-hari sudah berlalu, Keadaan Jia semakin memburuk. Penyakit yang ada dalam tubuhnya lama kelamaan menggerogoti tubuhnya. Jia hanya bisa menangis dan memanggil-manggil Maria “Mamah… Mamah…. Mamah… Mamah pulang…” Teriak Jia sambil menahan sakitnya. Kehidupan Jia sangat menyedihkan ketika ia sakit-sakitan ibu tirinya kasar dan menganggap Jia seperti budak tetapi di depan ayahnya Wida pura-pura bersikap baik dan ramah.
Suatu hari Wijaya melihat perilaku Wida sedang memukuli putrinya, “Mah… Jangan kasar begitu sama Jia, Jia kan sedang sakit…!” wijaya menegur Wida yang sedang memarahi Jia dengan perkataan yang kasar. Wida hanya tersenyum dan duduk manis. Namun keesokan harinya Wida masih tetap berprilaku kasar pada Jia.
Dua tahun kemudian Maria akan pulang ke Indonesia ia memberikan kabar tersebut ke keluarganya.
Wijaya yang mendengar kabar kedatangan Maria dari temannya pun berniat untuk pulang ke Puncak Situ. Memang dalam hati Wijaya masih tersimpan perasaan kesal dan dongkol, tetapi melihat keadaan puterinya yang sedang sakit-sakitan Wijaya memutuskan untuk menceraikan Wida dan kembali ke Maria. “Bagaimana caraku untuk menceraikan Wida..? ahh dia kan selalu menyiksa puteri, itu saja yang akan ku jadikan alasan akau menceraikanya….” pikir Wijaya.
Dua hari kemudian ketika Wijaya pulang dari rumah temannya ia melihat Jia sedang dipukuli oleh Wida sambil dimarahi. “Dasar anak bodoh… pekerjaanmu sama dengan ayahmu bisannya Cuma tidur dan menyusahkan ku… mati saka kau bodoh..” teriak Wida sambil memukuli Jia. “Sakit mah… Mamah sakit..” ujar Jia sambil menangis kesakaitan “Hey… hentikan jangan menyiksa anakku… dasar kamu wanita tak tau diri, memangnya pekerjaan kamu selama ini apa hah? Pekerjaan diam di rumah saja sudah sombong minta ampun… apa kamu gak malu kamu kan makan dan menikmati semua fasilitas ini dari aku..” Kata Wijaya dengan nada marah. Jia yang sedang dipukuli oleh Wida karena Wida takut sama Wijaya ia menghentikan pukulanya, saat itu Jia berlari lalu bersembunyi di belakang ayahnya. “Siapa yang tak tau diri?… kerja begitu saja sudah besar kepala.. punya anak penyakitan sombong… aku bosan hidup sengsara seperti ini…” kata Wida dengan sombong, “Baiklah… jika kamu bosan kita bercerai saja… cari lelaki yang kaya yang lebih segalanya dari ku… ayo Jia kita pulang” Kata Wijaya menceraikan Wida sambil pergi keluar rumah membawa Jia.
Keesokan harinya Wijaya berangkat dari rumahnya untuk menjemput Maria, dalam benaknya ia masih kecewa tapi demi kebaikan buah hatinya ia melupakan kekecewaan tersebut. “Nak papah pergi jemput mamah ya… Jia tidur aja di rumah jangan kemana-mana kan Jia lagi sakit… jangan lupa minum obat..!” kata Wijaya “Iya papah… hati-hati ya pah… sampaikan sayang Jia ke mamah.. Jia tunggu papah sama mamah pulang..” ujar Jia.
Wijaya pun berangkat dengan mobil yang disewanya. Setelah sampai di bandara ia melihat Maria yang sedang duduk sendirian, lalu Wijaya menyapanya “Mah…” “Mengapa papah tau mamah disini? Bukannya papah sudah tinggalin mamah?” kata Maria dengan marah “Maafkan papah, papah tak berniat tinggalin mamah… mungkin dulu papah sedang dilanda emosi mah.. maafkan papah ya… demi puteri kita mah… Jia sedang sakit… Jia butuh mamah tolong maafkan papah.” Kata Wijaya dengan lembut “Ya mamah maafkan… mamah juga minta maaf ya pergi gak ngasih kabar dulu sama papah.. Jia dimana pah..?” ujar Maria, “Puteri kita ada di rumah, ia sedang menunggu kedatangan kita..” kata Wijaya “Kalau begitu ayo kita pulang… mamah takut terjadi sesuatu kepada Jia..” kata Maria sambil menarik tangan Wijaya. Kemudian mereka pulang dengan mengendarai mobil yang disewa Wijaya.
Ketika sampai di rumahnya, Maria sangat sedih melihat buah hatinya terbaring lemas di atas tempat tidur.. “Sayang mamah datang, mamah tepai janji untuk menemuimu sayang ini mamah bawakan kado untuk mu” ucap Maria kepada Jia sambil menjulurkan sebuah kado. “Mamah… makasih udah datang.. Jia bahagia sekali, Jia sayang mamah..” kata Jia sambil tersenyum “Maafkan mamah ya sayang, mamah jahat tinggalin kamu sendirian, maafkan mamah..!” kata Maria sambil memeluk Jia lalu ia menangis “Mama jangan sedih.. mama harus tersenyum… Jia gak apa-apa..” kata Jia sambil mengusap air mata ibunya. Wijaya pun ikut menangis dari balik pintu rumahnya ia melihat istri dan anaknya yang sedang bersedih.
Seminggu kemudian keadaan Jia semakin memburuk. Orangtua Jia membawanya ke rumah sakit mereka menangis melihat puterinya menangis kesakitan.
“Mah… Pah… jangan menangis.. Jia tak kenapa-kenapa… Jia minta maaf ya sama mamah dan papah… mungkin gara-gara Jia kehidupan mamah dan papah menjadi rumit… Jia mohon mamah dan papah jangan bertengkar lagi… Jia ingin melihat mamah dan papah bahagia… jika suatu saat nanti Jia pergi Jia ingin sekali mendengar kabar kebahagiaan mamah dan papah… meskipun itu hanya kabar dari angin… Mahhh…. Pahhh… Maafkan Jia” kata Jia untuk yang terakhir kalinya sambil memegang kedua tangan orangtuanya. Jia menutup mata selamanya.
“Jia… Jia… Jia sayang bangun nak… jangan tinggalkan kami… kami butuh kamu Jia… mamah sayang sama kamu… Jia… Jia… Jia….” teriak Maria sambil menangis “Mah… sudah mah… biarkan Jia tenang di alam sana… kita yang tabah aja ya mah…” kata Wijaya sambil mengusap wajah Jia.
Cerpen Karangan: Fuji Paujia Pahmawati
Facebook: uzhie_ladycomet[-at-]yahoo.com
Nama saya Fuji Paujia Pahmawati
Saya lahir tanggal 09 november 1997, Saya bersekolah di SMAN 7 GARUT, alamat rumah saya kampung cibalubur Rt01/Rw08 Desa Bungbulang Kec Bungbulang Kab garut. Cerpen tersebut merupakan pengalaman saya saat kecil namun akhir ceritanya sedikit diperbaiki atau bisa dibilang diganti dengan hasil imajinasi. semoga Cerpen tersebut dapat menjadi teladan baik bagi kita supaya kita bisa menjaga keharmonisan rumah tangga jangan sampai buah hati kita menjadi korban.